14.6.15

Satan, Setan, Syetan, Syaithan!

SETAN menurut bahasa berasal dari ‘syathana’ dengan arti ‘menjauh’. Dinamakan setan karena jauhnya dia dari kebenaran. Ada pula yang mengatakan bahwa syaithan dari kata ‘syâtha’ yang berarti terbakar atau batal.

Pendapat yang pertama ‘syathana’ lebih kuat menurut Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir, sehingga kata ‘syaithan’ artinya adalah jauh dari kebenaran atau rahmat Allah.

Istilah setan kemungkinan juga diambil dari bahasa Ibrani ‘syatan’ yang artinya lawan atau musuh, sebagaimana ditulis oleh Syamsuddin Arif dalam “Orientalis dan Dioabolisme Pemikiran, 2008” dengan merujuk pada W. Gesenius dalam Lexcon Manuale Hebraicum et Chaldaicum in Veteris Testamenti Libros, s.v. ‘s-t-n’.

Ibnu Jarir menyatakan, setan dalam bahasa Arab adalah setiap yang durhaka dari jin, manusia atau hewan, atau dari segala sesuatu.

Firman Allah, “..Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia.” (QS: Al-An’am [6]: 112).

Ibnu Jarir berpendapat, Allah menjadikan setan dari jenis manusia, seperti halnya setan dari jenis jin. Dan hanyalah setiap yang durhaka disebut setan, karena akhlak dan perbuatannya menyelisihi akhlak dan perbuatan makhluk yang sejenisnya, dan karena jauhnya dari kebaikan, (Tafsir Ibnu Jarir jilid I).

Ibnu Katsir, dalam memahami ayat di atas menyatakan bahwa setan adalah semua yang keluar dari tabiat jenisnya dengan kejelekan, (Tafsir Ibnu Katsir Jilid II).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar, ia berkata, aku datang kepada Nabi dan beliau berada di masjid. Akupun duduk dan, beliau menyatakan, ‘Wahai Abu Dzar apakah kamu sudah shalat?’ Aku jawab, ‘belum’. Beliau mengatakan, ‘Bangkit dan shalatlah!’ Akupun bangkit dan shalat, lalu aku duduk. Ia berkata, ‘Wahai Abu Dzar, berlindunglah kepada Allah dari kejahatan setan manusia dan jin.’ Abu Dzar berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah di kalangan manusia ada setan?’ Rasul menjawab, ‘Ya.

Sifat Syetan
  • Setan adalah musuh nyata bagi manusia (Q5.7, Q17.53, Q35.6)
  • Pembangkang (‘ashiy)
  • Berwatak jahat, liar, dan kurang ajar (mârid dan marîd)
  • Selalu menggelincirkan (istazalla)
  • Menjerumuskan (yughwi)
  • Menyesatkan (yudhillu) orang banyak dengan segala trik dan strategi yang dimiliki.

Cara, Gaya, Trik dan Strategi Syetan
  • Menyusup dan memengaruhi (yatakhabbath)
  • Merasuk dan merusak (yanzaghu)
  • Menaklukkan dan menjatuhkan (istawâ)
  • Menguasai (istahwadza)
  • Menghalang-halangi (yashuddu)
  • Menakut-nakuti (yukhawwifu)
  • Merekomendasi (sawwala) dan menggiring (ta’uzz)
  • Menyeru (yad’u) lalu menjebak (yaftinu).
  • Menciptakan imej positif untuk kebatilan (zayyana lahum ‘a’maluhum)
  • Membisikkan hal-hal negatif ke dalam hati dan fikiran seseorang (yuwaswisu)
  • Menjanjikan dan memberikan iming-iming (yaiduhum wa yumannihim)
  • Memberdaya dengan tipu muslihat (dalla bi-ghurûr)
  • Membuat orang lupa lagi lalai (yunsî)
  • Menyulut konflik dan kebencian (yûqi’u al-‘alâdawah wal-baghda’)
  • Menganjurkan perbuatan maksiat dan amoral (ya’muru bil fahsya’i wal-munkar)
  • Menyuruh orang supaya kafir (qâla lil insan ukfur).*/Ilham Kadir

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar